Beberapa terakhir bulan ini semenjak di tinggal uchie (red), sebenarnya aku sangatlah sedih, seumur hidup setelah di tinggal sang Ayah ini kali keduanya aku merasakan hal sama, sebuah kesedihan yang mendalam, sampai-sampai setelah 7 tahun tidak menangis tahun ini aku menangis untuk seseorang. Ironis memang ironis, ibuku yang jauh saja tidak pernah aku tangisi (bukannya durhaka) tapi karena dia aku menangis :D tapi memang sih jujur yah ini pertama kali aku merasakan yang namanya jatuh cinta walaupun dia bukan wanita pertama buatku.
Tapi aku ambil hikmahnya, dari semua kesedihankuaku selalu memetik hikmahnya dan selalu pula itu menjadi kekuatan untukku. Pertama, saat Ayahku akan di kuburkan awalnya ku tidak nangis tapi setiap pulang dari sekolah aku sempatkan nangis di kamar :D betul-betul sedih waktu itu. Hmmm namun aku bisa berubah, awalnya aku seorang anak manja yang cengeng, tapi semenjak Ayahku wafat aku sadar kalau yang pergi itu tak harus di tangisi. So aku berubah jadi anak kecil yang kering air matanya, di apain pun takkan menangis sampai-sampai keluargaku banyak yang heran dan ada yang menganggap aku stress karena usiaku waktu itu masih anak-anak, padahal bukan karena itu. Aku juga bisa belajar mandiri, tidak lagi mengharapkan uang saku dari orang tua, kelas 2 SMP aku keluar dari rumah (bukan minggat) untuk kerja sambil sekolah hingga kini aku minta uang ke orang tua sekali setahun itu pun kalau kepepet.
Nah kesedihan ku kali ini lain lagi, wajar saja aku baru pertama kali jatuh cinta. Setelah dia pergi aku sangat sedih, tapi karna pesan-pesan dan semangatnya aku sekarang tambah matang lagi, bisa nabung, bisa dekat dengan Tuhan, bisa beli barang-barang yang dulunya cuma impian, pokoknya bisa melakukan apa yang dulu aku tidak bisa. Semoga saja tetap begitu, dan semoha yang baca juga begitu jangan biarkan kesedihan jadi kelemahan tapi buatlah kesedihan itu menjadi power of your life.
Tapi aku ambil hikmahnya, dari semua kesedihankuaku selalu memetik hikmahnya dan selalu pula itu menjadi kekuatan untukku. Pertama, saat Ayahku akan di kuburkan awalnya ku tidak nangis tapi setiap pulang dari sekolah aku sempatkan nangis di kamar :D betul-betul sedih waktu itu. Hmmm namun aku bisa berubah, awalnya aku seorang anak manja yang cengeng, tapi semenjak Ayahku wafat aku sadar kalau yang pergi itu tak harus di tangisi. So aku berubah jadi anak kecil yang kering air matanya, di apain pun takkan menangis sampai-sampai keluargaku banyak yang heran dan ada yang menganggap aku stress karena usiaku waktu itu masih anak-anak, padahal bukan karena itu. Aku juga bisa belajar mandiri, tidak lagi mengharapkan uang saku dari orang tua, kelas 2 SMP aku keluar dari rumah (bukan minggat) untuk kerja sambil sekolah hingga kini aku minta uang ke orang tua sekali setahun itu pun kalau kepepet.
Nah kesedihan ku kali ini lain lagi, wajar saja aku baru pertama kali jatuh cinta. Setelah dia pergi aku sangat sedih, tapi karna pesan-pesan dan semangatnya aku sekarang tambah matang lagi, bisa nabung, bisa dekat dengan Tuhan, bisa beli barang-barang yang dulunya cuma impian, pokoknya bisa melakukan apa yang dulu aku tidak bisa. Semoga saja tetap begitu, dan semoha yang baca juga begitu jangan biarkan kesedihan jadi kelemahan tapi buatlah kesedihan itu menjadi power of your life.





0 Komentar:
Poskan Komentar